Senin, 10 Februari 2020

Tugas Diary Etika 2


Disiplin itu penting
Oleh Widhah Salma Dariswanda
Pendidikan Sosiologi A

            Hai diaryku bertemu lagi bersama aku Widhah hahaha. Hari ini aku mau bercerita tentang disiplin itu penting sekali. Hari ini aku kuliah dan tidak ingin datang terlambat ke kampus, apalagi jarak dari rumahku ke kampus cukup memakan waktu ditambah dengan macetnya jalan di pagi hari.  Aku langsung bergegas untuk mandi dan sarapan. Aku juga belum menyetrika baju yang akan aku pakai, jadi aku harus menyetrika terlebih dahulu huhu. Selesai menyetrika baju, aku sarapan dan jam sudah menunjukkan pukul 6.10 WIB, aku segera bergegas untuk siap-siap.
            Jika aku ada kelas jam 7.30 WIB aku selalu berangkat pukul 6.30 atau 6.35 WIB. Aku takut kalau aku berangkat ke kampus agak siangan dikit, nanti akan terkena macet karena perjalanan dari rumahku ke kampus kalau pagi hari sekitar 35-45 menit. Dan pagi ini aku berangkat pukul 6.40 WIB, aku mulai menancapkan gas motorku hehehe, karena aku tidak ingin terlambat datang ke kampus. Saat aku sampai di traffic light lampu menunjukkan warna dari kuning menuju merah, karena jam udah agak siangan sehingga para pengendara banyak yang ngebut mengendarai kendaraan mereka, sehingga mereka kebanyakan menerobos lampu merah. Karena warna merah pertanda berhenti, maka aku berhenti dong ya, tapi ada bapak-bapak dibelakangku yang hampir menyenggol motorku karena sepertinya ia akan menerobos lampu merah namun motor didepannya dengan kecepatan cukup tinggi berhenti mendadak, sehingga bapak-bapak ini juga mengerem mendadak dan sedikit oleng. Aku sedikit kaget juga, takut kalau bapak itu akan jatuh ke arahku, karena sudah menyenggol motorku, namun Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Dari kejadian itu yang dapat kuambil hikmahnya adalah aku harus disiplin waktu untuk bangun bagi dan mempersiapkan segala sesuatu yang akan aku gunakan untuk kuliah, sehingga aku tidak terburu-buru dan akan berangkat dengan tenang. Hikmah yang kedua adalah kita sebagai pengguna jalan harus tertib lalu lintas, tidak ngebut dan taat pada rambu-rambu yang berlaku. Intinya kita semua harus disiplin waktu agar tidak kesiangan dan buru-buru yang mengakibatkan ngebut di jalan dan membahayakan keselamatan orang lain. Sekian diary aku, sampai ketemu di diary selanjutnya.

Rabu, 05 Februari 2020

Tugas Diary Etika 1


Pertemuan Pertama Mata Kuliah Etika
Oleh Widhah Salma Dariswanda
Pendidikan Sosiologi A

            Hai diaryku, ketemu lagi sama aku Widhah hehe, aku mau sedikit cerita tentang awal-awal kegiatan perkuliahanku di semester empat ini nihh. Jadi, tanggal 27 Januari 2020 merupakan hari pertamaku kuliah di semester empat ini. Wah aku benar-benar tidak menyangka sudah empat semester saja aku kuliah disini hahahaha. Di semester empat ini terdapat mata kuliah yang membuatku berdebar. Mengapa? Ya, karena mata kuliah ini berkaitan dengan etika, banyak cerita yang aku dengar dari kakak tingkatku tentang mata kuliah ini yang terlihat begitu menakutkan hahaha. Tiba lah hari dimana kelasku mendapatkan mata kuliah Etika dan Profesi Keguruan pada tanggal 29 Januari 2020. Hari itu benar-benar sudah kusiapkan segalanya, karena aku mendengar dari teman-temanku bahwa kita harus memakai rok dan tidak memakai kaos membuatku berpakaian menyesuaikan dengan itu dan datang tepat waktu.
            Saat aku sampai di kelas, banyak juga teman-teman perempuanku yang mengenakan rok. Wah sangat berbeda dari biasanya hahaha. Kemudian dosen kami, Bapak Grendi datang dan memulai perkuliahan dengan menjelaskan pengantar dan kontrak belajar dari mata kuliah ini. Beliau menceritakan berbagai hal yang berkaitan dengan etika dan profesi guru. Beliau juga menjelaskan bahwa mata kuliah etika ini tidak semenakutkan yang ada dibayangan kami hahaha. Tapi memang benar, ternyata mata kuliah etika dan profesi keguruan ini tidak semenakutkan dan semendebarkan yang ada dibayanganku. Dalam perkuliahan pertama etika ini, aku mendapatkan pengetahuan tentang etika yang berlaku bagi siapapun dan tidak memandang profesi. Dari situlah aku menyadari  bahwa untuk menjadi seorang guru, kami harus memiliki etika yang baik, dalam perilaku maupun penampilan karena pada dasarnya guru adalah orang yang akan “digugu lan ditiru” oleh murid-muridnya nanti. Wah ternyata pertemuan pertamaku dalam mata kuliah Etika dan Profesi Keguruan ini tidak semendebarkan apa yang ada dibayanganku hahahaha.

Rabu, 22 Januari 2020

Diary KKL


Tugas Diary Kuliah Kerja Lapangan
Kuliah Kerja Lapangan Pendidikan Sosiologi Angkatan 2018 ke Malang, Jawa Timur
Oleh Widhah Salma Dariswanda
18413244016/Pendidikan Sosiologi A
           Halo perkenalkan namaku Widhah Salma, semester 3 merupakan semester dimana KKL atau Kuliah Kerja Lapangan jurusanku akan dilaksanakan. KKL dilaksanakan tepat pada tanggal 13 Januari hingga tanggal 16 Januari 2020. Dua hari sebelum keberangakatan KKL, aku melakukan packing baju dan barang-barang yang harus dibawa. Ketika H-1 keberangkatan, aku mengecek kembali barang-barang untuk KKL agar tidak ada yang tertinggal. Hari-hari berlalu dan tanggal 13 Januari 2020 pun datang, di pagi hari pukul 04.00 WIB aku sudah bangun untuk bersiap berangkat ke kampus karena jam untuk berkumpul dan berangkat adalah pukul 06.30 WIB. Ketika aku sampai di kampus, ternyata baru ada beberapa teman yang berkumpul. Setelah semua berkumpul kami melakukan breafing dan berdoa bersama, kemudian kami mulai menuju ke bus masing-masing, sekitar pukul 08.00 WIB kami berangkat menuju Malang. Di perjalanan, teman-teman kelasku mulai karaoke bersama dan bersendau gurau sehingga membuat perjalanan yang cukup memakan waktu tidak terasa. Karena mulai lelah, banyak teman-teman yang tertidur, begitupun aku hehehe. Pada pukul 12.30 WIB, kami mulai memasuki kota Malang dan langsung menuju ke rumah makan untuk ishoma. Setelah ishoma selesai, kami berpindah dari bus ke shuttle untuk berangkat ke desa Ngadas, Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kami berangkat menuju ke desa Ngadas pukul 14.30 WIB. Di perjalanan, aku menikmati pemandangan yang begitu indah, pemandangan kebun-kebun warga dan hijaunya hutan sekitar desa. Jalan yang mulai menanjak dan udara yang semakin dingin membuat kami menjadi mengantuk dan tertidur di perjalanan.
            Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, kami tiba di desa Ngadas pukul 17.00 WIB dan kami langsung berkumpul di Balai Desa Ngadas untuk pembagian rumah. Setelah pembagian rumah, kami langsung menuju ke rumah masing-masing bersama bapak pemilik rumah. Aku tinggal dirumah bapak Moyo bersama Una, Fadia, Ajeng, Anisa, Ni Luh, Vera dan Aisyah. Kami tidur di dua kamar yang telah dibagi. Setibanya dirumah bapak Moyo, kami disambut dengan ibu. Setelah kami bersih-bersih, kami langsung membantu ibu untuk memasak dan menyiapkan makanan untuk makan malam di hari pertama kami di Ngadas. Setelah makan bersama, kami berkumpul kembali di Balai Desa Ngadas untuk mengikuti FGD bersama Kepala Desa dan tokoh masyarakat desa Ngadas. Pukul 22.00 WIB FGD berakhir dan kami pun langsung pulang ke rumah masing-masing. Pagi harinya, kami bangun pukul 04.30 WIB dan membantu ibu untuk memasak dan juga menyiapkan makanan untuk sarapan bersama. Di hari kedua ini, menjadi hari yang sangat membuatku menjadi semangat, hal itu karena kita dapat menemui sunrise yang begitu indah di rumah ini. Terlihat dengan jelas pemandangan kebun, gunung Semeru, dan pegunungan disekitarnya yang tentu menjadikan kami menjadi takjub. Setelah selesai membantu ibu memasak, kami sarapan bersama dengan ibu karena bapak sudah berangkat ke ladang. Setelah selesai makan, kami bersiap untuk mengikuti upacara Barikan dan Galungan di rumah Kepala Desa Ngadas. Pukul 09.00 WIB kami berangkat menuju ke rumah Kepala Desa dan sudah cukup banyak warga yang berkumpul disana. Setelah selesai mengikuti upacara Barikan dan Galungan, kami membantu ibu kembali untuk memasak makan siang. Pukul 11.00 WIB kami makan siang dan beres-beres untuk meninggalkan desa Ngadas dan berpindah ke lokasi selanjutnya. Pukul 12.30 WIB kami berpamitan dengan bapak Moyo dan keluarga. Kemudian kami menuju ke balai desa Ngadas untuk berkumpul dan kembali ke tempat transit kami semula lagi.
  Pemandangan di desa Ngadas, Poncokusumo, Malang.
 Upacara Galungan dan Barikan di Desa Ngadas
            Pukul 14.00 kami berangkat menuju ke Kampung Warna Warni Jodipan dan Kampung Tridi. Disana, kami melakukan FGD dengan tokoh masyarakat setempat dan kemudian melakukan tugas membuat video. Kampung Jodipan merupakan kampung yang dulunya kumuh karena terletak di pinggir sungai, namun sekarang sudah tertata dengan sangat bersih, rapi dan indah dengan warna-warna yang sangat cantik. Begitu pula dengan kampung Tridi, di kampung Tridi terdapat berbagai macam lukisan yang nampak seperti nyata. Letak kampung Tridi berseberangan dengan Kampung Jodipan. Untuk menyeberang, kami menggunakan jembatan kaca yang berada diatas sungai. Setelah berkeliling, kemudian kami kembali berkumpul ke parkiran untuk melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya.
Kampung Warna-Warni Jodipan dan Kampung  Tridi

 Kampung Warna-Warni Jodipan
Kami berkumpul pukul 17.00 WIB dan berangkat menuju rumah makan. Setelah makan dan sholat, kami berpindah dari shuttle ke bus untuk menuju ke Hotel Transformers yang berada dalam satu kompleks dengan Sekolah Selamat Pagi Indonesia. Sekitar pukul 19.00 WIB, kami tiba di sana dan disambut dengan Spectacular Show yang menunjukkan bakat dari siswa-siswi Sekolah Selamat Pagi Indonesia dengan menari. Setelah menyaksikan show, kami menuju ke kamar di Hotel Transformers yang telah dibagi. Karena malam itu adalah free time, aku lebih memilih untuk beristirahat, karena badan cukup lelah setelah seharian beraktifitas. Pada pagi harinya, kami bersiap packing kembali karena kami harus check out hotel pukul 07.00 WIB kemudian kami sarapan.
Setelah kami sarapan, kami mengikuti suatu FGD dan kemudian berkeliling Sekolah Selamat Pagi Indonesia  didampingi oleh siswa-siswi disana. Ketika berkeliling, kami melihat berbagai fasilitas yang ada di dalam SPI, seperti pusat oleh-oleh, restaurant, ruang kelas, peternakan, kebun hidroponik, tempat ibadah, dan yang lainnya. Sekolah SPI merupakan sekolah yang memiliki siswa yang multikultural, terdiri atas enam agama dan berbagai suku. Setelah selesai berkeliling sekolah SPI, kami kemudian bersiap untuk outbond. Outbond yang diadakan oleh siswa-siswi SPI ini bagi saya merupakan outbond yang seru dan menantang. Sebelumnya, kami dibagi kelompok sesuai dengan kelompok keliling SPI tadi. Aku berada di grup Horse bersama Sinta, Fadia, Mandala, Alvin, Shasha, Anggita, Kunni, dan Dini. Di setiap pos, memiliki games yang berbeda dan sangat menantang sehingga kami sangat menikmati outbond. Sekitar pukul 16.00 WIB kami selesai outbond dan bersih-bersih diri untuk bersiap mengikuti acara selanjutnya. Kemudian kami berkumpul kembali di aula untuk acara penutupan di SPI. Setelah penutupan, kami kembali ke bus untuk menuju ke Jatim Park 3. 
Show yang diadakan oleh siswa-siswi Sekolah Selamat Pagi Indonesia

           Sekitar pukul 18.00 WIB kami tiba di Jatim Park 3, disana kami berkeliling melihat isi dari Jatim Park 3. Karena waktu yang terbatas hanya 1 jam saja, maka aku memutuskan untuk tidak masuk ke wahana apapun dan menikmatinya dengan keliling dan berfoto. Setelah pukul 19.00 WIB kami berkumpul kembali dan ke bus untuk menuju ke tempat makan malam sekaligus membeli oleh-oleh yang letaknya dekat dengan Jatim Park 3. Sesampainya di sana, kami langsung mengambil makan malam dan setelah itu kami membeli oleh-oleh. Oleh-oleh khas Malang adalah apel malang dan olahan yang terbuat dari apel serta buah-buahan lainnya. Kami diberi waktu kurang lebih 2 jam untuk berbelanja oleh-oleh sampai pukul 21.00 WIB. Karena bingung, aku hanya membeli beberapa oleh-oleh untuk keluargaku, diantaranya keripik buah, dodol buah apel, dan pie apel. Setelah selesai membeli oleh-oleh, kami masuk kembali ke dalam bus dan bersiap untuk pulang ke Yogyakarta. Kami berangkat dari Malang pukul 21.30 WIB, di perjalanan tour leader di bus kami membagikan doorprize dengan tebak-tebakan, sehingga suasana ramai dan riuh pun terdengar. Namun ada beberapa pula teman-teman yang sudah tertidur pulas karena kelelahan. Pada pukul 03.00 WIB hari Kamis tanggal 16 Januari 2020 kami tiba di Yogyakarta, perjalanan pulang menuju Yogyakarta sangat terasa cepat.  Karena masih dini hari, banyak teman-teman yang belum dijemput begitupun aku. Namun, tidak berselang lama ayahku menjemputku di depan Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta. KKL yang kami jalani merupakan KKL yang sangat seru, memberi pesan mendalam, dan tidak akan terlupakan bagiku. Dengan KKL, kami lebih mengenal suku-suku dan kebudayaan yang ada di setiap daerah di Indonesia. Terimakasih KKL sudah melukiskan kenangan manis di semester 3 ini. 
           

Senin, 18 November 2019

Sosiologi Antropologi Pendidikan


KETIDAKMERATAAN PENDIDIKAN YANG BERPENGARUH
PADA SUMBER DAYA MANUSIA DI INDONESIA
Oleh Widhah Salma Dariswanda
18413244016

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa. Pendidikan menurut UU No. 20 Tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dengan adanya pendidikan, maka akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam negara tersebut, namun harus diikuti dengan kualitas pendidikan yang ada. Pendidikan dalam suatu bangsa harus memiliki kualitas yang tinggi agar dalam pembentukan sumber daya manusianya berhasil. Di Indonesia sendiri, pendidikan dengan kualitas sangat baik memang telah menjadi hal biasa di kota-kota besar, namun ternyata di daerah terpencil masih banyak ditemui daerah yang kondisi sarana prasarana dalam pelaksanaan pendidikannya sangat memperihatinkan. Terdapat beberapa faktor-faktor penghambat sumber daya manusia untuk maju dalam dunia pendidikan diantaranya adalah jumlah guru yang sedikit, fasilitas yang tidak merata, perbedaan tingkat ekonomi masyarakat dan yang lainnya.
            Ketidakmerataan pendidikan di Indonesia memang didasari oleh berbagai faktor, yang pertama adalah jumlah guru yang terdapat di daerah 3T sangat sedikit. Guru-guru yang benar-benar mengabdikan dirinya untuk mengajar di daerah 3T dapat dihitung dengan jari. Bagi sebagian guru, mungkin melihat daerah 3T sebagai daerah yang sulit dijangkau, jauh dari keramaian, dan kondisi sekolah yang tidak sebaik di daerah perkotaan. Jika didaerah terpencil hanya terdapat satu sekolah, kemudian guru yang mengajar pun juga hanya satu sampai lima orang, sangat-sangat berbanding terbalik dengan sekolah-sekolah di perkotaan. Dengan jumlah guru yang sedikit, pastinya akan berpengaruh pada penyampaian materi kepada siswa-siswanya. Guru yang memiliki dasar pendidikan matematika misalnya, ia juga harus mengajar bahasa Indonesia, tentu hal itu sangat kontras dan penyampaian materinya tidak sedalam guru yang mengampu mata pelajaran tersebut. Para siswa pun akan mengalami kesulitan dalam memahami materi, karena penyampaiannya tidak sedetail guru pengampu. Faktor lain yang memengaruhi ketidakmerataan pendidikan di Indonesia adalah perbedaan fasilitas pendidikan di daerah 3T dan kota. Di kota, fasilitas pendidikan sangat baik dibandingkan dengan daerah yang jauh dari kota. Hal itu mungkin didasarkan pada sulitnya akses menuju ke daerah tersebut, atau luput dari perhatian pemerintah. Fasilitas seperti meja kursi yang kondisinya tidak baik lagi, papan tulis yang menggunakan kapur, dan bangunan sekolah yang kondisinya tidak maksimal lagi, tentu berpengaruh pada proses belajara mengajar siswa.  Dengan begitu, maka siswa akan tidak nyaman belajar dan mungkin saja mereka memutuskan untuk tidak bersekolah dan bekerja saja.
            Faktor yang selanjutnya adalah perbedaan tingkat ekonomi di daerah terpencil dan kota. Di daerah terdepan, terluar dan tertinggal, masih banyak terdapat warga yang kurang mampu, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka saja mereka masih belum cukup, apalagi untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka. Jika di kota, banyak warga yang mampu walaupun tidak semuanya, mereka dapat menyekolahkan anak-anak mereka. Bagi warga di daerah terpencil, mereka dapat menyekolahkan anak mereka apabila biaya pendidikannya gratis dan ditanggung oleh pemerintah. Jika di daerah dekat rumah mereka tidak terdapat sekolah, mereka memilih untuk tidak menyekolahkan anak mereka ke daerah yang agak jauh namun terdapat sekolah. Hal itu karena biaya transport dan biaya pendidikan ke daerah lain mahal. Oleh karenanya, banyak anak-anak yang putus sekolah karena ketidakmampuan dalam membiayai pendidikan mereka. Namun, kini sudah terdapat program pemerintah mengenai bantuan biaya pendidikan, dan pelaksanaannya memang membiayai siswa-siswa kurang mampu dalam menempuh pendidikan.
Di Indonesia, pendidikan didaerah 3T atau terdepan, terluar, dan tertinggal memang telah menjadi salah satu perhatian dari pemerintah. Dari kajian sosiologi antropologi pendidikan dapat dianalisa bahwa pendidikan yang ada di daerah terpencil belum semuanya berjalan secara maksimal. Masih terdapat guru-guru yang mungkin “gengsi” dan malas untuk mengajar di daerah terpencil karena jauh dari jangkauan. Padahal seharusnya semua sekolah, entah dekat dengan pusat kota maupun jauh dari pusat kota memiliki fasilitas yang sama, seperti jumlah guru, sarana prasarana yang memadai, sehingga dalam melaksanakan pembelajaran siswa-siswa dapat menikmatinya dan nyaman saat belajar di sekolah. Oleh karenanya, guru yang bertugas mengajar di sana seharusnya ditambah jumlahnya, tidak hanya mengandalkan satu atau dua guru saja. Dengan jumlah guru yang cukup banyak, akan membuat proses belajar mengajar di sekolah tersebut berjalan secara efektif dan efisien, tidak perlu bergantian dalam melakukan pembelajaran. Fasilitas-fasilitas pendidikan di daerah terpencil, juga perlu ditingkatkan. Mengingat banyak anak-anak daerah 3T yang justru lebih semangat dalam menuntut ilmu. Sehingga, dengan adanya peningkatan fasilitas pendidikan, siswa-siswa akan kembali bersemangat belajar untuk mengejar cita-cita mereka.
Apabila ketidakmerataan pendidikan tersebut tidak diatasi secara maksimal akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia yang ada. Guru-guru yang mengajar tidak sesuai dengan keahliannya karena dipaksa oleh keadaan, tentu berdampak pada siswanya. Selain itu, fasilitas pendidikan yang tidak memadai, akan berdampak pada kenyamanan siswa ketika belajar. Apabila siswa-siswa tidak nyaman dengan kondisi sekitarnya, mungkin saja mereka dapat memilih untuk tidak bersekolah dan memilih dirumah saja karena fasilitas yang kurang memadai, apalagi ditambah dengan akses ke sekolah yang sulit, menyebabkan mereka enggan untuk meneruskan pendidikan mereka. Mahalnya biaya pendidikan dan pendukung pendidikan, tentu memberatkan mereka yang kurang mampu. Sehingga, banyak anak yang kurang mampu memilih untuk berhenti sekolah dan membantu orangtuanya mencari uang untuk kehidupan sehari-hari.
Ketika hal-hal tersebut terjadi, maka akan berdampak pada rendahnya kualitas sumberdaya manusia di Indonesia. Hal itu karena seharusnya anak-anak generasi penerus bangsa meneruskan pendidikan mereka hingga ke jenjang yang lebih tinggi justru memilih untuk berhenti menempuh pendidikan dan memilih untuk mencari uang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga mereka. Pekerjaan yang mereka lakukan pun mungkin belum sesuai dengan usia mereka, namun mereka tetap melakukannya karena kondisi ekonomi mereka. Walaupun begitu, mungkin sebagian anak juga meneruskan sekolah mereka, namun dengan kualitas sekolah yang masih rendah, sehingga mereka pun juga kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan yang memiliki pendapatan tinggi. Rendahnya sumber daya manusia tentu berdampak pada sulitnya mereka mendapatkan pekerjaan yang mapan dan bisa membantu perekonomian keluarga mereka. Sehingga diperlukan berbagai upaya agar dapat meningkatkan mutu pendidikan, memeratakan pendidikan hingga ke pelosok negeri dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan berbagai cara. 


Referensi :
Jurnal Mutu Pendidikan dan Pemerataan Pendidikan di Daerah, PSIKOPEDAGOGIA Volume 1 Nomor 2, Desember 2012 diakses pada 18 November pukul 16.28 WIB
https://www.maxmanroe.com/vid/umum/pengertian-pendidikan.html diakses pada 18 November 2019 pukul 18.31 WIB











Rabu, 05 September 2018

Resensi Buku


Resensi Buku
Etika Profesi Guru
 Unsur-unsur Buku
      Judul Buku                   : Etika Profesi Guru
      Penulis                         : Dr. Manpan Drajat, M.Ag.
                                                M. Ridwan Effendi, S.Pd.I, M.Ud
      Penerbit                        : ALFABETA, cv
      Cetakan ke                   : Satu
      Tahun terbit                  : 2014
      Jumlah halaman            : 148
      Sinopsis Buku
            Buku ini menjelaskan kepada pembaca bahwa kebanyakan orang memandang etika sama dengan akhlak, padahal istilah etika biasanya ditemukan banyak istilah yang lain seperti moral, norma dan etiket. Etika sering dikaitkan berasal dari bahasa Yunani kuno dan sudah mulai dibicarakan pada masa Socrates, Plato dan Aristoteles. Makna etika yaitu merupakan perbuatan-perbuatan atau sikap yand dilakukan oleh manusia bukan berdasarkan pada ego pribadi yang bersumber pada kebudayaan.
            Selain itu, buku ini juga menjelaskan tentang profesi secara umum diartikan sebagai suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut dalam science dan teknologi yang digunakan sebagai perangkat dasar untuk diimplementasikan dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat.  Guru adalah unsur manusiawi yang sangat dekat hubungannya dengan anak didik dalam pendidikan. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan, guru di sekolah harus dapat memposisikan dirinya sebagai orang tua kedua bagi para muridnya. Seorang guru harus mampu memberikan contoh yang baik bagi muridnya dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru, karena keikhlasan, kesabaran, ketakwaan dan kejujuran seorang guru di dalam pekerjaannya merupakan jalan terbaik kearah suksesnya proses belajar mengajar dan akan menjadi guru yang benar-benar dirindukan oleh setiap muridnya.

      Kelebihan buku                       : Buku ini menjelaskan secara detail tentang profesi guru dan etikanya.  Sehingga sangat membantu para pembaca.
      Kekurangan buku                    : buku ini menggunakan bahasa yang cukup tinggi sehingga sedikit sulit dipahami.
            

Ujian Tengah Semester Sosiologi Bencana

  Modal Sosial Dalam Manajemen Bencana Non-Alam Pandemi Covid-19 Oleh : Widhah Salma D/18413244016        Bencana merupakan suatu perist...